| Kondisi Dakwah |
|
|
|
Barong Tongkok 1991 ![]() Suasana Sholat Idul 1993 Kampung Barong Tongkok yang terdapat di Dataran Tinggi Tunjung sebelumnya adalah wilayah Kabupaten Kutai (sekarang Kab.Kutai Barat ), sekaligus menjadi ibu kota Kecamatan Barong Tongkok, membawahi 14 kampung. Mayoritas penghuninya adalah Suku Dayak Tunjung, Dayak Benuaq, beberapa pendatang yang telah lama menetap yaitu 6 kampung transmigran asal Jawa tahun 1965, dan suku-suku lain seperti Bugis, Banjar, Kutai, Toraja, dan lainnya. Agama yang dianut Kristen Protestan, Katholik (mayoritas di wilayah Kec.Barong Tongkok) dan Animesme. Di sini juga telah berdiri sejak tahun 50-an sekolah yang berada dibawah naungan Yayasan Katholik, SD dan SMP WR Soepratman, dan kegiatan keagamaannya dikomandoi langsung oleh Kepasturan Raja Barong Tongkok, yang dipimpin oleh pastur dari Jerman.
Peta dakwah islam waktu itu masih sangat memprihatinkan, belum ada da’i-da’i atau lembaga da’wah yang menurunkan tenaganya terjun ke kancah masyarakat. Sarana fisik dan infrastruktur yang ada belum selancar dan sepadat sekarang. Jalan ke kampung-kampung, atau penghubung ke antar kecamatan masih berlumpur, atau dengan jalur sungai/anak sungai. Perekonomian masih terpusat di Kampung Barong Tongkok, pasar sekali dalam seminggu, itu pun barang-barang yang dijual berkisar kebutuhan konsumsi yang sangat terbatas, kebutuhan lainnya hanya bisa dibeli bila pergi ke Samarinda (perjalanan sungai sehari semalam, dengan kapal sungai). Rata-rata kegiatan warga masyarakat terfokus hanya satu tujuan bagaimana memenuhi kebutuhan jasmani mereka agar bisa bertahan hidup. Mau bicara pendidikan, agama, kalau kita belum bisa meyakinkan kepada mereka dengan suritauladan dan bukti nyata, rasanya hanya omong kosong belaka, mereka para masyarakat muslim yang ada malah tergiur dengan pendidikan gratis yang ditawarkan oleh Yayasan Katholik dan Krsiten Protestan, mereka saling berlomba untuk merebut simpati masyarakat yang kebetulan situasi dan kondisinya memang sangat mendukung yaitu ekonomi yang belum mujur. Kebiasaan berladang yang jauh dari tempat tinggal juga salah satu kendala yang dihadapi mereka.
![]() Pengajian Putri 1993 Kondisi demikian ini yang membangkitkan semangat mendirikan lembaga Islam gratis, menawarkan kepada mereka, dengan langkah awal menumbuhkan keyakinan bahwa islam mempunyai ajaran yang lebih menjanjikan massa depan, lahir maupun batin, sedikit demi sedikit, program kecil-kecilan kita awali dengan aksi nyata, mulai dari khitanan massal, pengobatan gratis (waktu itu bekerja sama dengan 3 dokter dari Barong Tongkok, Melak dan Muara Lawa), sampai pada menyekolahkan santri ke Pesantren di Jawa, untuk menyiapkan generasi Islam di dataran Tunjung mendatang.
Hal ini dilakukan untuk menunjukkan bahwa kita selaku umat islam juga sangat peduli dan konsen terhadap pembinaan umat, dan juga agar bersaing dengan lembaga-lembaga Kristen Protestan dan Katholik yang telah ada sebelumnya. Dengan tidak menutup diri, bahwa kawan-kawan yang ada dari Muhammadiyyah, NU, Hidayatulloh adalah lembaga yang bermunculan bersamaan dengan berkembangnya Assalam saat ini, menjadi mitra da’wah dan kawan sepenanggungan untuk bersama-sama memikul missi IZUUL ISLAM WAL MUSLIMIN.
Barong Tongkok 2008 ![]() Gerbang menuju Ponpes Assalam Setelah adanya program desentralisasi otonomi daerah, perkembangan Kecamatan Barong Tongkok menggeliat tumbuh bak kendaraan yang melaju begitu cepat. Era kebebasan bermunculan, hingga kalau tidak terantisipasi sejak dini bisa menjurus ke SARA, dengan memanfaatkan sekat antar sukuisme, agama, dan ekonomi. Isu ini kita harus jeli, berhati-hati dan bijak dalam menyikapi. (kasus sampit, bom Bali, sempat memunculan terror di Assalam).
Kampus Pondok Pesantren Assalam yang dulunya berlokasi jauh dari kampung dan jalan raya, tak terduga sekarang malah berada ditengah-tengah pusat perkantoran Kota Sendawar (Ibu Kota Kab.Kutai Barat). Pembangunan gedung, perumahan, jalan raya merombak hutan belantara, disulap menjadi perkotaan, hal ini juga berimbas kepada dunia pendidikan dan keagamaan. Gereja-gereja berskala besar bermunculan di sana sini bak cendawan tumbuh dimusim hujan, dan didukung penuh oleh warga, pemkab setempat, beserta jajarannya.
Menghadapi kondisi seperti ini, Pondok Pesantren Assalam kalau tidak ingin tergilas oleh mereka, harus tetap eksis dan komitmen, terus meningkatkan pengelolaannya secara professional, dengan bersandarkan keikhlasan, kegigigih, keuletan, tahan banting dan istiqomah, serta dengan kesungguhan berusaha menempatkan diri pada kondisi yang selalu bisa mengundang turunnya bantuan, rohmat dan kasih sayang Alloh SWT.
![]() Tablig Akbar ![]() Bangunan Lama |
|
| Pemutakhiran Terakhir ( Saturday, 13 June 2009 ) |






